Langkau ke kandungan

Sesudah Nyalarasa Melebur

NukilanKasmaran2 min bacaan360 perkataan

Malam itu tidak membelah ruang, ia melembutkan rasa.

Aku tidak berdiri di sudut atau sisi; aku lenyap dalam lingkaran tanpa tepi, datang sebagai hembusan berlapis yang tak berbeza, wangi menyusup bagai rahsia azali, hangat menyelubungi bagai cahaya yang tak pernah pudar—semuanya satu arus yang meresap, membalut tubuh dalam kelunakan yang berulang, beralun tanpa awal atau akhir.

Pada awalnya aku hanya mendengar degupku sendiri—dalam, deras, dan diam-diam. Namun degup itu segera larut dalam irama yang lebih luas, bisik panjang bagai sutera melayang di angin ilahi, tawa rendah bagai embun kembali ke sumber tanpa jatuh. Nafas bernafas di sekeliling, bukan himpitan melainkan hembusan berputar yang menyatukan aku dengan segala yang bernyawa dalam satu nafas abadi.

Tanganku bergerak bukan untuk menakluk, tetapi untuk mengenal dan lenyap. Setiap lengkung yang kusentuh menjawab dengan getar yang sama, lembut lekat, hangat halus—kulit bertemu kulit dalam sunyi sarat, di mana irama rapat menjadi ritma tunggal. Rambut terurai bagai sungai mengalir ke lautan; jari menjelajah dan kembali dengan sabar, hingga tiada lagi aku dan kau, hanya pergerakan yang tak berpisah.

Keintiman itu tidak datang serentak; ia lahir bagai ombak bertindih tanpa henti, surut reda dalam rindu yang lebih dalam. Tekanan terkumpul dalam dada, berat bulat, mengalir melilit tanpa tergesa—sehingga batas diri retak, dan segala yang berbilang melebur ke dalam satu.

Saat pelepasan itu tiba, ia lahir sebagai suatu suara derasan dan dalam, bukan jerit tajam melainkan seruan sarat—gelombang yang keluar disambut oleh kelunakan yang meluruh lembut, diam berdenyut dalam kesatuan panjang. Irama tidak bertindih untuk mendominasi; ia berbalas, berpadu, hingga tiada pemisah—hanya fana di mana ego lenyap, dan baqa di mana segala kembali ke Asal.

Sesudahnya, ruang reda tetapi rasa tidak surut. Aku tidak lagi memikirkan sudut atau sisi; aku memikirkan pusat yang padu, di mana degup-degup bertemu dan menjadi satu denyut abadi. Keseimbangan itu bukan garis tegas, bukan bilangan, melainkan keesaan yang lahir dari pelbagai yang melebur—kelunakan melingkar, meresap, menetap dalam cahaya tanpa tepi. Dan sejak saat itu, aku memahami: keintiman bukan tentang jarak atau wujud berasingan, melainkan kepulangan ke dalam Cinta yang telah ada sejak sebelum waktu, di mana kekasih hilang dalam Kekasih, titis menjadi lautan, lautan menjadi titisan.

Share