Langkau ke kandungan

Asma Diri Di Pelantaran Nurani

PuisiAsrar2 min bacaan131 perkataan2 baris2 rangkap

Pada tanah liat ingatan, asmaku terpahat tipis; garisnya mulai gerus, namun belum gugur, di bawah cahaya yang baru tiba. Sepi mendakapku dengan dingin pada kalbu; kerak retak lalu rebah ke jeluk yang tandus, garis itu turut tenggelam, segala hingar hanyut, segala suara surut, tinggal diam. Aku mendongak kepada jumantara: masihkah bahagia bernaung di sana, masihkah warna menyala bagi mata yang lama terkambus? Garis itu tetap kupanggil, meski tiada lagi menyahut.

Di sini, aku berhenti memberontak. Asma terbaring pada lumpur, kebas, pucat, pasrah; aku tahu pulih datang perlahan. Kubiarkan akar-akar halus menyusur rekah yang pernah memisahkan garis itu. Apabila malam menjelma, akar-akar itu turun ke jeluk yang sama, mencari hangat yang masih tersimpan di bawah bentala; sedikit demi sedikit, tanah memeluk kembali garis asmaku hingga ukirannya utuh semula, tanpa pernah kehilangan namanya.

Februari 2026