Langkau ke kandungan

Khojah Maimun dan Burung Bayan

HikayatCeritera3 min bacaan405 perkataan

Sebermula ada saudagar di negara Ajam. Khojah Mubarak namanya, terlalu amat kaya, akan tetapi ia tiada beranak. Maka Khojah Mubarak pun minta do’a, katanya, “Ya Tuhanku! Jikalau kiranya aku beroleh anak, aku memberi sedekah makan segala fakir miskin dan darwis.” Hatta beberapa lamanya ia bernazar itu, maka dengan takdir Allah hendak melimpahkan rahmat di atas hamba-Nya, maka saudagar Khojah Mubarak pun beranaklah istrinya seorang laki-laki terlalu baik rupanya. Maka Khojah Mubarak pun terlalu sukacita hatinya. Maka dinamakan anaknya itu Khojah Maimun dan dipeliharakannya dengan sepertinya.

Setelah datanglah umurnya Khojah Maimun lima tahun, maka terlalu baik pekertinya serta bijaksananya. Maka diserahkannya oleh bapaknya Khojah Maimun mengaji kepada mu’alim Sabian. Hatta beberapa lamanya, maka Khojah Maimun itu pun tahulah mengaji dan terlalu fasih lidahnya serta banyak ilmu yang diketahuinya.

Maka datanglah umur Khojah Maimun lima belas tahun, maka dipinanglah oleh Khojah Mubarak anak seorang saudagar, amatlah kayanya, dalam negeri Ajam itu juga, dan anaknya itu amatlah elok parasnya, namanya Bibi Zainab. Maka Khojah Maimun itu pun dinikahkan dengan anak saudagar itu. Maka duduklah Khojah Maimun berkasih-kasihan dengan istrinya Bibi Zainab itu.

Hatta beberapa lamanya Khojah Maimun beristri itu, kepada suatu hari ia pergi bermain-main ke pekan, maka bertemu dengan seorang laki-laki membawa burung bayan jantan seekor. Maka kata Khojah Maimun, “Hai laki-laki. Engkau juallah burung itu?” Maka sahut laki-laki itu, “Jikalau sampai harganya, hamba jual juga.”

Maka kata Khojah Maimun, “Berapa harga-harga nya?” Maka kata laki-laki itu, “Seribu dinar bayan hamba ini harganya.” Maka tersenyumlah Khojah Maimun, lalu ia bertanya, “Adakah orang mau membeli burung yang sedemgian ini seribu dinar? Layaknya unggas ini makanan kucing juga.”

Setelah bayan itu mendengar kata Khojah Maimun, maka katanya, “Hai Khojah Maimun! Sungguhlah hamba ini sekepal, tetapi hati hamba di mana tuan hamba tahu? Akan sekalian alam ini di bawah tilik hamba dan hamba ini bukannya seperti unggas yang lain; tetapi bukan hamba ini daripada unggas surga dan bukan daripada bangsa malaikat, dan bukan hamba ini daripada jin, tetapi hamba Allah ta’ala, sentiasa memuji-muji Allah ‘azza wajalla; dan akan hati hamba ini, yang akan datang sepuluh hari, sudah hamba ketahui sekarang halnya. Adapun akan sekarang tiga hari lagi datanglah kafilah dari negeri Babal hendak membeli dagangan yang bernama sambal-sambal. Jikalau tuan hamba mau membeli hamba, bertangguhlah dahulu kepada orang yang menjual hamba ini, dan tuan hamba kampungkanlah sambal dalam negeri ini; apabila datang kafilah-kafilah itu, tuan hamba juallah, insya Allah daripada laba sambal itulah tuan hamba belikan hamba.”

Share

Sumber: Hikayat Bayan Budiman